Jangan Lagi Bilang Kata Itu Netral

Jangan Lagi Bilang

Surahmat. Dosen Jurusan Bahasa serta Sastra Indonesia, Periset di Pusat Analisis Budaya Pesisir, Kampus Negeri Semarang.

Pernyataan “kata itu netral” sedang terkenal di Twitter. Tetapi, pengetahuan linguistik rupanya menunjukkan jika perkataan itu begitu menggeneralisasi, karena sebab semenjak awal ada beberapa kata yang dicetuskan bermaksud spesifik alias tidak netral.

Dikutip The Conversation, Selasa (22/9/2020), pemerhati bahasa Indonesia Ivan Lanin menjelaskan jika kata itu netral. Opini itu ditangkis oleh novelis Eka Kurniawan yang mengatakan opini kebalikannya: kata tidak netral.

Pembicaraan ini selekasnya jadi besar tidak cuma di golongan periset bahasa dan juga mengambil alih perhatian publik bertambah luas sebab bahasa ialah alat komunikasi semua anggota warga.

Dari pemikiran keilmuan, saya setuju dengan Eka jika kata tidak netral; mereka berbentuk politis serta ideologis.

Teori-teori bahasa canggih berkaitan inti, peranan, serta pemakaian bahasa dalam kehidupan setiap hari memberikan dukungan alasan itu.

Urutan keilmuan

Di dunia kebahasaan, masalah netralitas kata bukan hal baru.

Dengan cara tidak langsung, pembicaraan ini sudah ada semenjak awal ke-19 serta selama ini alasan jika kata tidak netral bertambah memberikan keyakinan.

Pertimbangan jika bahasa itu cuma simbol serta pemberi tanda yang berbentuk netral biasanya dibantu barisan linguis susunanal, yakni barisan pakar bahasa yang memusatkan analisisnya pada faktor susunan bahasa.

Salah satunya tokohnya yang sangat punya pengaruh ialah filsuf dari Swiss Ferdinand de Saussure yang membuat pembedaan-pembedaan di antara sinyal serta pemberi tanda.

Pandangan barisan linguis susunanal dinilai oleh saluran linguistik fungsional yang melihat susunan resmi bahasa dipastikan oleh beberapa fungsi sosialnya. Barisan yang mulai tumbuh tahun 1960-an ini berupaya lihat keutamaan ikatan di antara bahasa dengan warga yang malah diacuhkan oleh barisan susunanal.

Tokoh linguistik fungsional dari Inggris MAK Halliday memperlihatkan jika peranan sosial bahasa benar-benar memengaruhi bentuk resmi bahasa.

Saat ikatan di antara bahasa dengan peranan sosialnya tersingkap, ikatan bahasa dengan tanda-tanda lain di luar bahasa diketahui makin banyak. Barisan ini menjelaskan jika bahasa rupanya mempunyai ikatan dengan inspirasi, kepercayaan, nilai-nilai, serta praktek sosial.

Perkembangan barisan linguistik fungsional ini selanjutnya diiringi oleh lahirnya saluran gawat dalam pengetahuan kebahasaan pada awal 1990-an.

Salah satunya perintis saluran ini ialah linguis dari Lancaster University, Inggris, Ruth Wodak.

Ia menjelaskan jika tujuan studi ini ialah menyelidik pertanda di warga, termasuk juga sinyal berbentuk bahasa untuk lihat kebutuhan ideologi serta kekuasaan dalam pemakaian kata.

Berdasar urutan saluran linguistik di atas, saya yakin saluran yang bertambah canggih condong menguatkan alasan yang menyanggah kenetralan kata.

Teori bahasa memperlihatkan jika pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-sehari berbentuk politis.

Bahasa yang digunakan dalam sehari-harinya manusia tetap berbentuk politis sebab terikat dengan situasi mental, sosial, serta budaya nyata waktu bahasa dibuat.

Dalam buku classic The Meaning of Meaning, dua filsuf Inggris CK Ogden serta IA Richard mengutarakan kata terbentuk karena jalinan segitiga di antara lambang (berbentuk bunyi), ide (imaji dalam pikiran), serta rujukan (suatu hal yang dirujuk). Satu kata berarti cuma kemungkinan terbentuk bila tiga faktor itu komplet.

Keterangan itu memperlihatkan salah satunya faktor pembentuk kata ialah inspirasi. Dengan begitu, kata telah berisi beberapa ide serta semenjak dia berbentuk ide.

Di lain sisi, bukti jika beberapa kata spesifik lahir pada ruangan sosial serta budaya spesifik serta bukan di ruangan sosial budaya lain memperlihatkan ada ikatan di antara kata itu dengan kebudayaan penuturnya.

Ada dua pendekatan yang dapat dipakai untuk menunjukkan kehadiran ideologi dalam beberapa kata, yakni morfosemantik serta etimologi.

Pendekatan morfosemantik meletakkan perhatian pada arti beberapa kata dengan menimbang faktor morfem penyusunnya. Pendekatan ini bisa dipakai untuk memperlihatkan arti kata dikuasai oleh arti kata lain sebagai faktor pembentuknya.

Dengan bahasa Indonesia, misalnya, kata “karyawati” adalah perkembangan bentuk dari kata “karyawan”. Inspirasi jika karyawan sejenis kelamin wanita membutuhkan kata spesial adalah inspirasi yang politis. Skema sama bisa diketemukan pada kata wartawati, peragawati, siswi, mahasiswi, dan lain-lain.

Dengan bahasa Inggris, skema itu bisa diketemukan pada kata woman serta female yang mempunyai ikatan morfosemantis dalam kata man serta male.

Pendekatan etimologi meletakkan perhatian pada jalinan di antara kejadian, waktu, serta inspirasi yang melatarbelakangi lahirnya beberapa kata. Pendekatan ini penting sebab kata ialah objek yang menyejarah.

Kata memboikot, misalnya, mempunyai muatan perlawanan semenjak awal sebab lahir dari perlawanan petani Irlandia County Mayo pada agen tanah namanya Charles C. Boycott

Kata n****, contoh yang lain, mempunyai muatan rasis semenjak awal sebab ada untuk olok-olok buat orang kulit hitam Amerika. Kata itu diprediksikan ada pertama-tama di Amerika Serikat sisi selatan, wilayah subur buat barisan antikulit hitam.

Kentalnya ideologi dengan bahasa membuat jadi perangkat penting untuk menantang marjinalisasi barisan minoritas pada 1980-an khususnya di Amerika serta Inggris.

Linguis Lancaster University Inggris Norman Fairclough mengutarakan penyeleksian kata terkait dengan usaha mengganti wawasan yang pada akhirnya bisa mengganti praktek sosial pada objek spesifik yang dirugikan.

Misalnya, dahulu pemakaian kata cacat dipandang normal. Sekarang arti itu condong dijauhi sebab memunculkan kesan-kesan jelek. Untuk alternatifnya, kata difabel dipakai agar bisa mengganti pemahaman serta praktek sosial pada warga difabel.

Serangkaian alasantasi di atas memperlihatkan jika kata tidak berbentuk netral.

Unit Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta kembali lagi menertibkan pelanggar limitasi sosial bertaraf besar (PSBB). Petugas Satpol PP menulis masyarakat yang menyalahi ketentuan PSBB di Pasar Gembrong, Jakarta, Selasa (2/6/2020).

Leave a Comment